Cek Nama Domain Anda

Cek Nama Domain ?

Kabupaten Banyumas Jelang Pilkada 2013

 

Sejak jaman dahulu, wilayah yang sekarang dinamakan Kabupaten Banyumas oleh pemerintah penjajah Belanda sudah diketahui potensinya, baik potensi sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM). Salah satunya adalah potensi lahan perkebunan tebu serta sarana penunjangnya, seperti sumber daya air dan sumber energi listrik. Untuk keberhasilan mega proyek industri gula, banyak didirikan sarana penunjang SDM-nya.  Untuk mencetak tenaga amtenaar pemerintah kolonial Belanda mendirikan  sekolah-sekolah Belanda, mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai tingkat lanjutan.

Demi suksesnya mega proyek ersebut, administratif pemerintahannya ditatata. Kota Purwokerto disiapkan menjadi pusat pemerintahan yang mengurusi mega proyek industry gula. Tatakotanya direncanakan  secara cermat.  Pemerintah kolonial Belanda mendatangkan arsitek kenamaan bernama Thomas Karsten. Sehingga, tata kota Banyumas kota lama cukup berbeda dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Peruntukan kawasan sudah dipetakan. Kawasan Gunung Tugel disiapkan menjadi kota satelit Purwokerto.

Berhubung di kota Purwokerto dan di wilayah eks Karesidenan Banyumas banyak berdatangan para pegawai berkebangsaan Eropa khususnya Belanda yang mengurusi perkebunan tebu beserta pabrik-pabrik gulanya, maka didirikan infrastruktur pelayanan kesehatan mereka. Rumah Sakit Juliana di kota lama Banyumas (sekarang RSUD Banyumas) didirikan. Untuk refreshing para staff ahli mega proyek industry gula dari 5 pabrik gula, pemerintah kolonial Belanda membangun kawasan berudara dingin yang terletak di sebelah utara kota Purwokerto (Baturaden) menjadi tempat peristirahatan.

Pascapenjajahan Belanda, kota Purwokerto dan wilayah Kabupaten Banyumas banyak mendapat warisan infrastruktur. Di antaranya berupa bendung-bendung sungai berserta saluran irigasi teknisnya. Sumber energinya berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Ketenger. Pengangkutan bahan mentah dan produk jadi dari pabrik-pabrik gula menggunakan KA/lori yang melewati rel KA. Ada pula yang diangkut lewat jalan raya. Lahan perkebunan diolah dengan kerja paksa, penanaman komoditasnya  dengan tanam paksa.

Setelah penjajah Belanda hengkang, laju pembangunan dilanjutkan oleh para Bupati Republik. Keadaan Kabupaten Banyumas pascapenjajahan sangat mendingan jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Indonesia, berhubung  infrastruktur yang ditinggalkan oleh penjajah Belanda lumayan lengkapnya.

Tepuk Dada?
Kabupaten Banyumas sudah dari sononya maju sejak jaman penjajahan Belanda. Jika dipimpin oleh bupati yang prestasinya datar-datar saja pun akan tetap maju. Jika seorang bupati Banyumas berkoar-koar tentang keberhasilannya dengan mengoleksi banyak penghargaan, tentu saja bukan merupakan prestasi semata bupati yang berkoar-koar itu. Keberhasilannya bisa merupakan penetrasi Bupati Kanjengan (Aristrokasi), Pemerintah Kolonial Belanda, dan Bupati sebelumnya seperti Soekarno Agoeng dan Poedjadi Djaring Bandajoeda.

Demikian pula jika seorang Bupati Banyumas telah membanggakan dirinya telah berhasil meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) menjadi lima kali lipat PAD masa pemerintahan Bupati sebelumnya (Aris Setiono), maka Bupati tersebut telah merasa puas dan hebat. Mungkin, Bupati tersebut tidak cukup mengetahui kesejarahan Kabupaten Banyumas. Lipatgandanya PAD menjadi lima kalinya bukanlah prestasi luar biasa. Sebab, pada kurun waktu sama, Kabupaten manapun di Indonesia mempunyai tren PAD berlipatganda, sebagai akibat geliat Otda dan desentralisasi pemerintah pusat. Dikatakan luarbiasa jika berlipat sampai sepuluh kalinya, bahkan limabelas kalinya.

Memang, di Indonesia hampir semua Bupati dan masyarakatnya menjadikan tingginya PAD sebagai parameter keberhasilan seorang Bupati dalam membangun. Tapi, apakah PAD cukup mewakili keberhasilan pembangunan? PAD hanyalah tolok ukur keberhasilan material. Parameter-parameter keberhasilan pembangunan social dan budaya sangat sedikit dipetakan, bahkan tidak dipetakan dalam PAD. Parameter sosial itu  di antaranya parameter sakit dan ketidaksakitan psikologis para birokrat dan masyarakat yang diakibatkan oleh arogansi dalam melipatgandakan PAD yang hanya lima kali lipat itu.

Masyarakat Kabupaten Banyumas hendaknya  jangan cukup berbangga diri atau kagum dengan kemajuan-kemajuan pembangunan yang diraih. Perlu diteliti kebenarannya, semua itu bisa berupa kemajuan-kemajuan yang sifatnya normatif dan selayaknya.

Sepertinya, masyarakat Kabupaten Banyumas memerlukan karakter Bupati yang berjiwa pemersatu dan sanggup meletupkan wawasan lokalitas Banyumas, seperti yang pernah dilakukan oleh Bupati Banyumas pertama Raden Jaka Kaiman. Setidaknya, karakternya mendekati dua puluh lima persennya. Untuk meraih kemajuan pembangunan yang tidak normatif, masyarakat Kabupaten Banyumas memerlukan Bupati yang prestasinya tidak sekedar datar-datar saja, seperti prestasi Jokowi ketika membangun kota Solo.

Agar pembangunan Kabupaten Banyumas tidak saja berhasil secara normatif, maka dibutuhkan Bupati yang mempunyai ide-ide dan gagasan-gagasan eksplosif seperti Jokowi. Setidaknya, ekplosivitasnya mendekati tigapuluh persennya. Adakah calon Bupati yang sedikit Njokokaiman dan Njokowi dalam bursa Pilkada Banyumas kali ini?

 

 

 

artikel dikutip dari regional.kompas.com


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 MYBOYOLnetwork · All Rights Reserved